Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tsundoku, Gaya Hidup Konsumtif Para Penikmat Buku

Gaya Hidup Konsumtif Para Penikmat Buku
Freepik.com

Gaya hidup konsumtif - Saat masih kuliah, saya selalu berpikir, “Kalau sudah bekerja dan punya penghasilan, saya ingin menyisihkan sebagian penghasilan saya untuk membeli banyak buku supaya pengetahuan saya terus bertambah. Selain itu, membaca buku adalah salah satu kegiatan ‘me time’ yang suka saya lakukan sewaktu masih kuliah.”

Sebagai seorang mahasiswa yang uang sakunya terbatas, memiliki banyak buku dari berbagai genre bacaan yang bisa dibaca kapan saja di kala senggang merupakan sebuah mimpi di siang bolong. Maklum, harga buku tidak murah, apalagi buku-buku best seller yang ditulis oleh penulis terkenal, harganya bisa ratusan ribu. Bahkan, ada banyak buku yang harganya jutaan karena dicetak dengan kualitas kertas terbaik dan dikemas dengan sangat apik, terutama buku yang diimport dari luar negeri.

Saat masih kuliah, untuk menghilangkan rasa haus akan sebuah bacaan, saya memanfaatkan fasilitas perpustakaan yang ada pada kampus saya. Setiap kali saya ke kampus, saya pasti menyisihkan satu atau dua jam untuk mengunjungi perpustakaan.

Saya memanfaatkan privilege yang saya miliki untuk meminjam buku sebanyak tiga eksemplar yang bisa saya bawa pulang selama satu minggu, dan bisa diperpanjang masa peminjamannya sampai dua kali masa peminjaman.

Buku yang saya pinjam bukan saja buku kuliah, tapi ada juga buku-buku kedokteran, buku-buku sejarah, sampai novel. Tidak lupa, saya juga menyempatkan diri untuk sekadar membaca surat kabar maupun majalah yang tersedia di perpustakaan kampus karena saya tidak berlangganan surat kabar maupun majalah.

Tujuan saya banyak membaca tentu saja untuk meningkatkan kapasitas pengetahuan yang saya miliki. Banyak tokoh besar dunia seperti dari Ir. Sukarno, B. J. Habibie, hingga Bill Gates yang kita ketahui rajin membaca sejak muda, makanya mereka bisa jadi orang sukses pada bidangnya masing-masing.

Tidak usah jauh-jauh, teman saya yang selalu bisa menjawab pertanyaan dosen ketika perkuliahan pun tentu diakibatkan kebiasaannya rajin membaca.

Saat sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, saya memang sering membeli buku, setidaknya satu atau dua bulan sekali, terutama jika sedang ada diskon besar-besaran di toko buku. Saya juga suka membeli buku-buku bekas yang dijual oleh para warganet yang tidak sengaja saya lihat jika harganya sesuai dengan budget yang saya miliki. Sedikit demi sedikit, koleksi buku yang saya miliki di rumah pun terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Setelah menyisihkan penghasilan yang saya miliki untuk membayar tagihan listrik, tagihan BPJS, tagihan PDAM, hingga menyisihkan sebagian penghasilan saya untuk kebutuhan dana darurat, saya pun menyisihkan sebagian penghasilan saya untuk budget membeli buku.

Saya memanfaatkan karunia yang telah saya dapatkan tersebut untuk mewujudkan mimpi saya ketika kuliah, yakni memiliki banyak buku. Buku-buku tersebut saya tumpuk pada sebuah meja yang saya miliki di rumah. Jumlah buku tersebut sudah sangat banyak dan saya susun rapi berdasarkan genre bacaannya. Suatu saat, saya pasti bisa membeli rak buku cantik supaya buku-buku koleksi saya tersebut bisa disimpan dengan rapi.

Awalnya, setelah membeli buku-buku tersebut, saya membacanya sampai habis di waktu senggang. Namun, seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan buku-buku yang saya miliki malah menumpuk di rumah.

Saya tidak lagi memiliki waktu untuk membaca buku-buku tersebut karena kesibukan yang saya miliki. Sekalipun saya memiliki waktu senggang, saya lebih banyak menghabiskan waktu membaca artikel secara online, nonton film, maupun nonton YouTube alih-alih membaca buku-buku tersebut. Nah, kondisi tersebut saat ini dikenal dengan istilah tsundoku.

Apa itu Tsundoku?  

Tsundoku sendiri berasal dari bahasa Jepang, yang saat ini digunakan untuk menyebut mereka yang membeli banyak buku, tapi tidak membacanya sama sekali. Saat ini, tsundoku seperti jadi gaya hidup tersendiri bagi penikmat buku.

Banyak dari mereka, termasuk saya, sengaja membeli banyak buku dengan harapan suatu saat akan menyelesaikan buku-buku tersebut untuk dibaca. Ada juga yang sengaja membeli banyak buku dengan harapan disangka sebagai orang pintar karena banyaknya buku di rumahnya. Intinya, buku-buku tersebut hanya menjadi hiasan saja.

Saat ini tsundoku bukan saja dilakukan karena seseorang punya minat baca yang tinggi maupun sengaja memblei buku sebagai hiasan saja, namun karena gaya hidup konsumtif.

Masyarakat Indonesia kelas menengah memiliki keinginan yang sangat besar untuk terus belanja, belanja, dan belanja terus. Tsundoku saya ibaratkan seperti seseorang yang gemar belanja sepatu lari, tapi tidak pernah menggunakannya untuk berlari, hanya menumpuk saja di dalam rumah.

Saya akui, gaya hidup ini sangat mengganggu saya. Saya sangat merasa bersalah sudah membeli banyak buku tapi tidak meluangkan waktu untuk menyelesaikan semua buku tersebut untuk saya baca, padahal saya memiliki banyak waktu luang di masa pandemi ini.

Bahkan, beberapa buku yang telah saya beli tersebut asih dalam keadaan tersegel plastik dan belum sempat saya buka. Sebagian lagi sudah saya buka dan hanya sempat saya baca beberapa halaman saja tanpa saya selesaikan.

Gaya hidup tsundoku ini tentu saja tidak merugikan siapapun, kecuali dompet saya sendiri. Namun, saya merasa sangat bersalah karena sudah berperilaku sangat konsumtif. Saya akui, sejak berkembangnya gadget, pikiran saya mudah sekali terdistraksi saat membaca sebuah buku. Tidak seperti beberapa tahun ke belakang sebelum pesatnya perkembangan gadget

Setiap 15 menit sekali, saya malah gatal untuk membuka laman media sosial saya untuk membaca berita terkini. Padahal berita terkini yang saya baca masih itu-itu saja, belum ada perkembangan signifikan yang harus saya periksa secara berkala.

Cara Menghindari Gaya Hidup Konsumtif  

Untuk menghindari gaya hidup tsundoku ini, saat ini saya tidak membeli buku baru sama sekali meskipun ada diskon besar-besaran yang sangat menggiurkan pencinta buku seperti saya sebelum saya menyelesaikan seluruh buku yang sudah saya beli tersebut.

Saat ini saya mentargetkan diri saya untuk menyelesaikan paling tidak satu buku baru untuk saya selesaikan setiap bulannya. Tidak muluk-muluk, saya sisihkan 15 menit dalam satu hari untuk membaca buku alih-alih membaca berita di gadget yang saya miliki.

Itulah cara yang saya gunakan untuk berusaha mengindari gaya hidup tsundoku dan mulai memperbaiki bagaimana cara saya memanfaatkan waktu luang yang saya miliki supaya bisa lebih produktif lagi di saat pandemi seperti ini, yakni dengan menyelesaikan buku yang sudah saya beli alih-alih terus menerus membeli buku tapi tidak menyelesaikannya sama sekali.

Itulah penjelasan tentang Gaya Hidup Konsumtif.

Posting Komentar untuk "Tsundoku, Gaya Hidup Konsumtif Para Penikmat Buku"