Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gaya Hidup Konsumtif: Sampah Makanan Adalah Contoh Cerminannya

Gaya Hidup Konsumtif
Unsplash.com

Apa yang terbesit di pikiran kalian saat mendengar gaya hidup konsumtif? Banyak yang mengira, bahwa gaya hidup ini merupakan gaya orang kaya yang kerjanya belanja dan buang-buang uang.

Saat masih sekolah, saya berpikiran seperti itu. Namun pemikiran tersebut salah, karena gaya hidup yang satu ini belakangan justru tidak dijalankan oleh orang kaya yang punya banyak uang, tapi dijalankan oleh masyarakat kelas menengah secara tidak sadar.

Apa itu gaya hidup konsumtif?

Secara garis besar, gaya hidup ini adalah gaya hidup di mana seseorang secara berlebihan membeli suatu barang atau jasa melebihi kebutuhannya. Coba, pernahkah kita membeli suatu barang karena barang tersebut terlihat lucu atau karena barang tersebut lagi trend? Jika iya, tindakan tersebut bisa disebut perilaku konsumtif.

“Ah, saya gak pernah beli barang-barang lucu yang gak ada fungsinya sama sekali”

Mungkin benar, kamu atau saya gak pernah membeli barang-barang lucu yang tidak memiliki fungsi apapun selain fungsi estetika. Namun, coba lihat tempat sampahmu di rumah, pasti banyak sampah makanan bukan? Coba lihat, ada berapa banyak sisa nasi, sisa sayuran, maupun sisa lauk pauk yang terpantau pada tempat sampah di rumah? Pasti banyak!

Dilansir dari Tirto.id, The Economist Intelligence Unit bersama Barilla Center for Food and Nutrition Foundation melaporkan bahwa setiap penduduk Indonesia membuang sekitar 300 kilogram makanan setiap tahunnya, jauh di atas Amerika Serikat yang “lebih hemat” 23 kilogram dalam hal membuang sampah makanan dalam setiap tahun.

Para ilmuwan yang membuat laporan tersebut tentu saja fokus pada permasalahan lingkungan hidup. Hal ini dikarenakan sampah makananan yang kita konsumsi sehari-hari memproduksi jejak karbon yang sangat besar. Akibatnya, bumi jadi semakin rusak hanya karena sampah makanan yang kita konsumsi tersebut.

Namun saya tidak menyoroti masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh perilaku konsumtif kita tersebut. Saya menyoroti, di saat kita membuang sampah makanan sebanyak 300 kilogram, 13,8% balita Indonesia mengalami kekurangan gizi dan 3,9% lainnya menderita gizi buruk. 34,74% rumah tangga di Indonesia pun masih harus bergantung pada suplai beras miskin (raskin) dari pemerintah. Ironis sekali bukan?

Contoh gaya hidup konsumtif

Perilaku konsumtif orang Indonesia pada makanan, dari pengamatan saya sulit dihilangkan karena sudah mengakar secara akut. Kita terbiasa makan-makanan dengan porsi banyak, padahal kita tidak membutuhkan makanan dengan porsi sebanyak itu. Tentu, ini sangatlah mubazir dan tidak bijaksana.

Contohnya, ketika kita sudah kenyang dengan satu porsi nasi bungkus di warung terdekat, beberapa jam kemudian kita membeli kue yang lagi hits hanya karena bentuk dan warnanya yang lucu. Karena masih kenyang, kita hanya makan sepotong lalu keesokan harinya kue tersebut kita buang karena tidak bisa kita habiskan sama sekali.

Contoh kedua, pada bulan Ramadhan, kita hanya makan saat sahur dan berbuka puasa, bukan? Tapi saat Ramadhan, harga kebutuhan pokok meningkat tajam. Hal ini diakibatkan perilaku kita yang konsumtif pada makanan meningkat tajam. Coba perhatikan, saat bulan puasa, kita pasti mengkonsumsi jenis makanan yang lebih banyak dari biasanya bukan? Ujung-ujungnya, makanan tersebut tidak bisa kita habiskan dan berakhir di tempat sampah.

Saya juga menaruh perhatian yang cukup besar pada sejumlah acara hajat seperti resepsi pernikahan yang sering saya datangi. Seringkali, nasi, sayuran, buah-buahan, hingga lauk pauk yang disediakan untuk tamu banyak yang tidak habis meskipun panitia sudah memanggil warga sekitar yang bukan merupakan tamu undangan untuk menghabiskan hidangan tersebut. Ujung-ujungnya, makanan tersebut berakhir di tempat sampah.

Tidak saja menambah beban kerusakan lingkungan, perilaku konsumtif orang Indonesia pada makanan pun bisa berakibat fatal pada kondisi finansial kita. Coba saja hitung berapa banyak kerugian yang harus kita hadapi dari makanan-makanan yang kita buang ke tempat sampah? Kalau tidak terbuang dengan sia-sia, uang tersebut bisa kita tabung atau kita investasikan, bukan?

Sekarang, kita sama-sama tahu bahwa perilaku konsumtif kita pada makanan itu tidak saja merusak lingkungan, tapi juga merusak dompet kita. Tentunya, kita semua sebisa mungkin untuk mengurangi perilaku konsumtif tersebut secara perlahan agar kita semua bisa mengurangi dampak kerusakan lingkungan dan bisa lebih hemat lagi.

Kita harus lebih bijak lagi dalam mengkonsumsi makanan. Makanlah sesuai porsi dan kebutuhan gizi kita, jangan berlebihan. Jangan ambil makanan dengan porsi besar jika kamu tidak yakin bisa menghabiskannya. Lebih baik kamu makan dengan porsi sedikit terlebih dahulu dan baru menambah porsi makanan kamu setelah porsi pertama yang sudah kamu tuang di atas piring sudah habis.

Saya yakin, orang yang sering membuang-buang makanan ke tempat sampah, tidak pernah merasakan kelaparan seperti yang dialami oleh anak jalanan maupun tunawisma. Mereka tidak tahu, bahwa ada begitu banyak anak jalanan maupun tunawisma rela mengais-ngais tempat sampah yang kotor untuk memakan makanan sisa yang telah mereka buang.

Saya pun baru menyadari hal ini setelah melihat kejadian tersebut beberapa tahun yang lalu saat saya mengikuti salah satu acara bagi-bagi makanan untuk para tunawisma di jalanan Kota Bandung. Saat itu, tidak sedikit para tunawisma yang meneteskan air mata saat menerima satu porsi nasi kotak yang kami berikan pada mereka. Mereka berkata, bahwa mereka belum makan apa-apa dari pagi sehingga lebih memilih tidur di trotoar jalan untuk menghilangkan rasa lapar.

Dari situ, saya sadar, bahwa selama ini saya sering sekali menyia-nyiakan makanan yang saya miliki dengan membeli makanan dalam jumlah yang besar, padahal saya tidak membutuhkan makanan dengan porsi sebanyak itu. Ujung-ujungnya, makanan tersebut saya buang. Padahal diluar sana, ada begitu banyak orang yang tidak bisa makan. Ada begitu banyak orang yang tidak seberuntung saya, seperti yang telah saya ceritakan di atas.

Makanya, sebisa mungkin, kita jangan pernah membuang makanan. Jika kita tidak sanggup menghabiskan makanan yang ada di atas meja, simpanlah makanan tersebut supaya bisa kita habiskan nanti. Masukan makanan tersebut dalam lemari pendingin, jangan dibuang begitu saja.

Jangan sampai kita terus berkontribusi menambak jejak karbon dengan membuang makanan. Jangan sampai kita jadi boros karena terus menerus membeli makanan tapi tidak pernah menghabiskannya. Itulah gambaran gaya hidup konsumtif beserta contohnya di kalangan masyarakat.

Posting Komentar untuk "Gaya Hidup Konsumtif: Sampah Makanan Adalah Contoh Cerminannya"